Rendi Dan Pembantu

 


 Cerita Dewasa Taroslot-Ini adalah sebuah kisah seks nyata antara Rendi dengan pembantu rumah tangganya. Skandal yang menjadi hobi dari sang Rendi yang setiap kali punya

pembantu perempuan selalu saja disetubuhinya. Pergantian pembantu pun menjadi hal yang menambah deretan kisah petualangan seksnya. Simak kisah lengkapnya berikut ini! Ketika anak saya berumur satu tahun saya pindah rumah. Rumah sendiri. Rasanya sudah cukup bekal mental kami untuk tinggal sendiri. Semua pelajaran tentang bagaimana berumah tangga yang kami terima dari ibu mertua tampaknya cukup. Juga soal seks tentunya:). Kami hanya sekali melakukannya, dan tak ada keinginan untuk mengulanginya. Saya takut, seperti halnya kejadian saya dengan Mbak Maya dan Rosi. Tapi diam-diam saya geli sekaligus bangga terhadap diri saya. Benar-benar luar biasa. Empat perempuan dalam satu keluarga telah saya tiduri, dan rahasia itu terjaga dengan aman sampai kini, saat saya tuliskan kisah saya ini. Skandal yang menurut saya luar biasa. Sesungguhnyalah petualangan seks saya sebenarnya

belum berakhir. Skandal terus berlangsung di dalam

rumah saya. Terus terang saya memang tidak punya

cukup keberanian untuk melakukan perselingkuhan

dengan perempuan lain di luar yang benar-benar

saya kenal. Mungkin karena pada dasarnya saya suami yang “baik”. Kedua, saya tidak memiliki

daya tarik seksual (sex appeal) yang menonjol. Tinggi

badan saya cuma 162 cm. Terlalu pendek untuk laki-

laki. Kulit sawo matang, dan wajah biasa mesti tidak

jelek. Tidak ada yang luar biasa. Jadi sangat jarang

perempuan tertarik secara fisik kepada saya. Saya juga tidak agresif dalam bergaul, meskipun saya

cukup humoris. Saya tak punya banyak teman wanita

kecuali teman sekantor, dan beberapa teman maya

(e-pal). Saya merasa sangat nyaman berteman

dengan perempuan-perempuan di dunia maya. Lebih

bebas. Baiklah, yang saya ceritakan ini mengenai perempuan pembantu saya. Kami sering berganti-ganti pembantu. Paling lama

mereka hanya bertahan satu tahun. Entah kenapa.

Mungkin mereka tidak cocok dengan istri saya yang

cenderung tak banyak omong sehingga terkesan

galak. Mungkin juga malas mengasuh anak kecil.

Entahlah. Justru pergantian-pergantian inilah yang membuka pintu perselingkuhan seks bagi saya. Yang

pertama dengan seorang gadis bernama Sri. Usianya

saat itu 16 tahun. Dia kami peroleh di sebuah

penampungan PRT, semacam sebuah yayasan. Saat

itu istri saya sedang memilih-milih sejumlah PRT yang

ditawarkan pengelola. Saya menunggu di ruang tamu dengan anak saya. Anak saya terus bergerak-gerak.

Maklum baru beberapa minggu bisa berjalan. Saat dia

melihat mamanya anak saya berlari ke arahnya.

Mamanya akan menangkap, tetapi keburu didahului

seorang gadis. Salah seorang PRT. Gadis itu

mengangkat anak saya menimangnya. Anak saya kelihatan senang. Saya dan istri saya tertegun. Lalu saya lihat istri saya berbicara dengan gadis itu.

Beberapa saat kemudian istri saya menghampiri

saya.

“Gimana kalau dia saja?” tanyanya.

Saya bingung. Kalau melihat bagaimana gadis itu

bersikap terhadap anak saya, rasanya dialah yang kami cari. Kami memang butuh PRT yang pintar

mengasuh anak. Maklum saya dan istri pekerja,

sehingga tanggung jawab anak sepenuhnya kami

serahkan ke pembantu. Tetapi melihat fisik gadis itu,

saya ragu. Rupanya istri saya tahu apa yang ada

dalam benak saya. Anak kami masih dalam gendongan gadis itu. Gadis yang benar-benar tak

layak menjadi PRT. Percayalah. Dia terlampau cantik

sebagai PRT. Kulitnya putih bersih. Tinggi semampai,

ramah, periang. Dan, waduh. Teteknya sangat besar. Tidak. Saat ini saya sedang mencari pengasuh anak.

Itu yang penting.

“Dia saja ya?” Istri saya mendesak. Saya bigung.

“Si Nisa lengket banget tuh.”

Akhirnya gadis bernama Sri itu kami ambil. Inilah

sebenarnya kekeliruan istri saya. Maaf, pembaca. Pembantu saya ini setingkat lebih cantik dibanding

istri saya sendiri. Benar-benar membingungkan kan?

Bahkan para tetangga kami tadinya tidak percaya

kalau itu pembantu saya. Mereka mengira dia famili

kami. Reaksi saudara-saudara istri saya negatif.

Mereka keberatan dengan pembantu secantik itu. Apalagi Sri benar-benar ramah luar biasa. Dia juga

cenderung cerdas meskipun hanya lulusan SMP. Ibu

mertua saya bahkan marah-marah pada istri saya

dan meminta saya mengganti pembantu. Istri saya

memberi penjelasan tetang bagaimana Sri pintar

merawat Nisa. Penjelasan ini tidak bisa diterima ibu. Saya menduga keberatan itu karena ibu khawatir

akan terjadi sesuatu antara menatunya dengan Sri.

Beliau kan contoh nyata. Istri saya bersikukuh,

bahkan ketika ibu mengancam tidak akan berkunjung

ke rumah kami sampai kami mengganti pembantu. Apa yang dikhawatirkan ibu memang beralasan. Saya

benar-benar tergoda oleh semua yang ada dalam diri

Sri. Kecantikannya, kebersihan kulitnya, teteknya,

keramahannya. Dua bulan sejak dia ikut kami, saya

sudah mulai punya pikiran kotor. Saya mulai mencari

cara untuk bisa meniduri Sri. Maukah dia? Istri saya sama sekali tidak mencurigai saya. Baginya saya

adalah pria yang culun dan setia. Dunia saya hanya

duania kantor dan rumah. Setiap kali dia

menghubungi saya, ya saya hanya di kantor atau di

rumah. Itulah yang membuatnya merasa tenteram,

tidak menaruh curiga apa-apa. Bodoh. Serangan terhadap Sri saya lakukan pada suatu

malam ketika istri saya keluar kota. Birahi saya

muncul sejak siang. Istri saya berpesan kepada Sri

supaya kalau malam Nisa tidur dengan dia. Soalnya

istri saya paham betul tabiat saya kalau tidur malam.

Susah bangun sekalipun anak menangis keras di sisi saya. Sejak sore Nisa bersama saya, bercengkerama

di depan TV, lalu tertidur sekitar jam 19.00. Saya

tiduran di sebelahnya sambil nonton TV. Tapi

sebenarnya pikiran saya sedang kacau oleh birahi

dan keinginan untuk menikmati tubuh Sri. Tetek gadis

itu benar-benar sangat menggoda saya. Seperti apa rupanya tetek besar seorang gadis? Saya ingin

meremas-remasnya, ingin mengulum dan

menjilatinya. Saya telah memasang perangkap sejak sore. Tapi

tidak ada reaksi apa-apa. Saya tiduran dengan

berbalut sarung, tanpa baju. Hanya CD saja. Jam 20.00

Sri meminta Nisa untuk dibawa ke kamarnya. Saya

pura-pura menolaknya.

“Sudah biar tidur sama saya saja,” kata saya. “Nanti dimarahin Ibu. Katanya Bapak kalau tidur..”

“Ahh sudahlah,” saya memotongnya.

“Nanti saja, saya masih pingin di dekat Nisa,” sahut

saya.

“Saya sudah mengantuk, Bapak.”

Saya diam saja. Gadis itu mengenakan kaos denga rok span di atas lutut. Dia duduk melipat lutut di sebelah

Nisa. Rambutnya tergerai sebahu. Hmm. Sepasang

pahanya yang putih tersembul dari roknya.

“Sudah kamu tiduran di situ dulu nanti kalau sudah

waktunya aku bangunin terus kamu bawa Nisa ke

kamarmu,” kata saya. Perangkap saya pasang. Dia tampak ragu dan

bingung.

“Sana ambil bantal kamu!” perintah saya.

Dia beranjak. Sebentar kemudian datang lagi dengan

membawa bantal dan selimut. Dia rebahkan tubuhnya

di sisi Nisa. Dia balut tubuhnya dengan selimut. Tenggorokan saya seperti tersekat. Kering. Haus

rasanya. Saya tidur dengan Sri hanya dibatasi si kecil

Nisa. Sri mencoba memejamkan mata. Sesekali

melirik ke arah TV. Lalu saya tidur menghadap ke

arahnya. Memandanginya. Rupanya dia tahu saya

memandangi. Sekilas dia memandang saya, lalu memejamkan mata. Saya memandangi terus.

Semakin kagum, dan semakin panas dingin tubuh

saya. Penis saya sudah tegang sejak tadi. Saya

bingung bagaimana mengawali. Maukah Sri

menerima saya? Kalau dia melawan? Kalau berteriak-

teriak? Kalau besok minta keluar? Pikiran saya mulai kacau. Antara berani dan tidak. Saya mencoba

tersenyum kepadanya ketika dia melirik saya. Dia tak

bereaksi. Tampaknya dia tahu apa yang berkecamuk

dalam benak saya. Saya memanggil namanya pelan. Dia membuka

matanya.

 Taroslot Bandar Togel Online dan Bandar Slot Terbesar di Indonesia 2

“Kamu cantik sekali.” Dia terbelalak dan

merapatkan selimutnya.

Saya terus memandanginya. Lalu saya lihat dia

tersenyum tipis. “Kamu cantik sekali,” kata saya lagi.

Wajahnya merah. Timbul keberanian saya. Saya

mencoba meraih jemarinya yang tersembul dari

selimut. Dia kaget dan menariknya. Saya hentikan

serangan saya. Sesaat kemudian saya coba raih helai-

helai rambutnya. Saya elus kepalanya. Dia diam. Saya makin berani.

“Kamu pernah punya pacar?”

“Sudah ahh Bapak. Nggak boleh gitu,” katanya.

Nisa bergerak-erak seperti mau bangun. Sri mencoba

menengkan dengan menepuk-nepuk punggungnya.

Kesempatan itu saya gunakan untuk meraih tangannya. Saya gengam. Dia diam, hanya matanya

yang lurus ke arah mata saya. Saya cium tangan itu.

Penis saya makin tegang. Saya ciumi punggung

tangan itu, lalu telapak tangannya. Tak ada rekasi.

Saya makin berani. Secepat kilat saya bergeser

tempat. Kali ini di belakanganya. “Bapak jangan gitu, ahh,” dia menepis tangan saya

yang mencoba memeluknya.

“Kenapa?”

“Nggak boleh. Nanti dimarahin Ibu.”

“Kan Ibu nggak ada?”

“Nanti dibilangin sama Adik. Dik Nisa, besok bilangin ke mama, Papa nakal ya?” Sri berbicara pelan

kepada Nisa. Saya tersenyum dan kembali memeluknya. Kali ini dia

diam. Saya merapatkan badan kepadanya.

Saya gesek-gesekkan penis saya ke tubuhnya. Dia

menggelinjang sebentar, dan berusaha menjauh, tapi

tubuhnya terantuk tubuh kecil Nisa. Saya makin

beringas. Saya buka selimutnya. Saya usap kakinya. Ke atas, di paha. Dia mendesis dan berusaha

menghindar.

“Saya tidur di kamar saja ahh.”

Dia mencoba bangkit tapi saya menahannya.

“Jangan.”

“Bapak nakal sih.” Saya menghentikan aksi. Sesaat kemudian hanya

tangan saya yang saya taruh di pingangnya. Dia diam

saja. Lalu saya kembali memeluknya. Ahh tepatnya

mendekap dia. Saya gesek-gesek pelan tangan saya

di bagian perutnya. Dia tak bereaksi. Saya terus

berusaha memberi rangsangan dengan menyusupkan jari saya ke kulit perutnya. Tampaknya

berhasil. Dia mendesis. Tak ada perlawanan. Tangan

saya merayap pelan ke atas sampai terentuh dinding

yang sangat tebal. Tetek yang luar biasa besarnya.

Benar-benar baru kali ini saya liat tetek sebesar ini.

Saya sentuh pelan-pelan. Saya takut dia menolaknya. Tapi tidak ada reaksi. Baru ketika saya pelan-pelan meremas, tubuhnya

terlihat bergerak-gerak. Dia melenguh. Saya makin

kalap. Remasan makin keras, dan menyelusuplah

tangan saya ke dalam BH-nya. Tersentuh dagihg

kenyal. Saya raba, saya remas. Sri menggelinjang.

“Hh..” Tangannya mencengkeram tangan saya. Saya mulai menaiki tubuhnya. Sarung saya lepas.

Saya hanya bercelana dalam. Sri memejamkan mata.

Saya cium bibirnya dengan tangan saya tetap

meremas-remas payudara besarnya. Tanpa saya

duga, dia membalas ciuman saya. Bakan menghisap

lidah saya dengan rakus. Bibir saya bergerak turun ke leher. Selimut telah lepas dari tubuhnya. Saya singkap

kaosnya, dan akhirnya, saya lihat kutang itu terlalu

kecil untuk teteknya yang super besar. Hanya dengan

sekali geser. Putingnya telah tersembul. Saya cium

puting itu. Saya hisap, dan saya gelitik. Dia meronta-

ronta. Tangannya memeluk saya erat-erat. Lalu saya cium lagi bibirnya. “Kamu pernah melakukan dengan cowok?” bisik

saya sambil memainkan lidah di telinganya.

“Belum.”

Tangan saya bergerak ke bawah, ke celah CD-nya,

mengelus-elus semak-semak lembut, dan menggelitik

sebuah celah yang telah basah. Sri mencengkeram kepala saya, lalu menariknya. Dia mencium bibir saya.

Melumatnya. Lidah saya disedot dengan hebatnya.

Saya permainkan tangan di bawah, menyusuri

sepasang bibir vagina. Kadang memutar-mutar di

ujung bibir. Ketika mencoba masuk ke sebuah lubang,

saya tahu, gadis ini masih perawan. Tangan Sri telah mengcook penis saya. Mengocok dan

meremas-remas dengan sangat kuatnya. Sakit. Persis

seperti yang dilakukan Rosi, ipar saya di Taman KB

malam itu. Saya buka CD Sri, hingga pangkal kakinya,

lalu dia menendang sendiri CD itu, melayang ke dekat

TV. Dia juga menarik CD saya. “Kamu masih perawan Sri?” taya saya.

Dia mengangguk sambil terus mengocok penis sya.

Kocokan yang kasar.

“Kamu mau saya masukkan ini saya?” saya

memegang tangannya yang sedang mengocok penis.

Dia mengangguk. Tapi saya takut. Saya tak berani megambil keperawanannya. Biar bagaimana saya

masih punya rasa kasihan. Tak tega saya. Benar-

tbenar tak tega. Tapi nafsu telah menguasai kami.

“Saya ciumin saja ya?” Dia mengangguk-angguk. Saya membalikkan tubuh saya, mengangkat kedua

pahanya yang padat. Memeknya disinari cahaya TV.

Saya mulai menjilati. Meskipun tercium aroma yang

tidak enak, saya tidak mempedulikan. Saya terus

menjilatinya. Sri mengerang-erang. Saya coba

menaruh penis saya di depan mulutnya. Tapi dia hanya meremas dan mengocoknya. Ketika lidah saya

makin beringas menjilati memeknya, barulah dia

memasukkan penis saya di mulutnya. Saya sibakkan

bibir memeknya. Saya jilat-jilat isinya, jari tengah saya

mencoba menusuk pelan. Sri mengangkat pantatnya.

Mulutnya menghisap-hisap penis saya. Terdengar bunyi sangat keras. Si Nisa masih pulas tanpa terganggu perang di

sebelahnya. Ketika saya merasa hendak ejakulasi,

saya tarik penis saya. Saya ingin sperma saya jatuh di

luar mulutnya. Serentak dengan itu saya mengulum

kelentit. Sri menarik pinggul saya dan menghisap kuat

penis saya. Srtt srrtt Sperma saya pu terpancar. Sri berusaha mendorong keluar tubuh saya. Tapi kali ini

saya justru menekannya. Saya tidak ingin penis saya

lepas dari mulutnya. Seluruh mani saya telah keluar.

Sebagian telah masuk ke dalam kerongkongan Sri. Dia

tampak muntah-muntah. Suaranya sangat keras. Saya

jadi ketakutan. Dia menampung muntahan dengan selimutnya. Saya menjadi iba. Saya pijat-pijat

tengkuknya. Beberapa saat kemudian dia mulai

tenang. Saya ambilkan air, dan di meminumnya.

Dia memukuli dada saya. “Bapak nakal. Bapak

nakal.” Saya lega.

“Tapi kamu masih utuh kan? Kamu tidak kehilangan mahkotamu, kamu tidak akan hamil.”

Dia tersenyum lalu beranjak menuju kamar mandi.

Saya puas. Benar-benar puas. Perseligkuhan dengan Sri saya ulangi beberapa kali.

Banyak sekali kesempatan terbuka. Segalanya

berjalan sangat lancar. Kami melakukannya tidak

hanya ketika istri saya serang keluar kota. Tetapi juga

siang hari saat istri kerja dan aku pulang diam-diam.

Bedanya, Sri tak lagi mau membuka CD-nya. Dia bersedia mengulum penis saya. Jadi aku hanya

berhak atas bibir dan tetek. Bagi saya itu lebih dari

cukup. Saya memang tidak menginginkan memek Sri.

Biarlah itu menjadi milik suaminya kelak. Suatu saat, entah karena apa, istri saya meminta Sri

keluar. Sri sangat terpukul. Dia menangis

sesenggukan. Saya juga kaget dan takut. Ada apa

sebenarnya? Apakah istri saya tahu yang terjadi

antara saya dan Sri? Akhirnya istri saya berterus

terang, sebenarnya dia tak ingin Sri keluar. “Semua ini karena ibu,” kata istri saya kepada Sri.

Sebagai gantinya ibu telah menyediakan pembantu.

Seorang perempuan yang buruk rupa. Hitam, dekil,

dan udik. Hmm.

Kepada Sri istri saya mencarikan kerja di sebuah

toserba yang cuku besar. Ini berkat bantuan relasi istri saya. Sri gembira bukan main meskipun sedih

harus berpisah dengan Nisa. Sejak itu saya tak pernah

bertemu dia lagi. Tapi berharap suatu saat bisa

bertemu ketika dia telah bersuami, dan mengulang

apa yang pernah kami lakukan. (Sri, jika kamu tahu,

saya menunggumu) Pembantu berikutnya yang menjadi pelampiasan

narfsu saya bernama Mumun. Usianya sama dengan

Sri. Meskipun tak secantik Sri, namun dia cukup

menarik untuk ukuran pembantu. Pendekatan

dengannya bahkan lebih lama dibandingkan yang

saya lakukan terhadap Sri. Yang saya lakukan pertama adalah saya mencubit lengannya sambil lalu.

 Taroslot Bandar Togel Online dan Bandar Slot Terbesar di Indonesia 2

Beberapa kali itu saya lakukan. Lama-lama dia berani

membalas. Tentu tanpa sepengetahuan istri dan anak-

anak saya. Waktu itu si sulung kelas 3 SD sedangkan

si bungsu masih kecil. Dari mencubit lengan meningkat menjadi meremas

tangan. Bahkan kemudian ketika dia menunggui si

kecil tidur di depan TV saya berani mencuri-curi

mencium pipinya. Saya bahkan mulai merayu dan

mencoba mencium bibirnya, tapi dia menolak. Saya

tak menyerah, dan akhirnya berhasil. Rupanya itu ciuman pertama bagi dia, sekaligus pergumulan

pertama. Saya tak berhasil menyentuh payudaranya.

Apalagi memeknya. Hanya meremas kutangnya. Dia

juga tidak mau memegang penis saya. Tetapi saya

sempat ejakulasi. Sejak pergumulan itu secara sembunyi-sembunyi dia

memanggil saya “sayang”. Lucu. Terutama ketika

saya pulang kerja. Dia ambilkan minuman dan bilang,

“Minumnya sayang.” Pernah suatu ketika, saat di

dapur dan saya menggodanya, dia melontarkan

panggilan itu. Bersamaan dengan itu istri saya muncul. Hampir kiamat rasanya. Tapi saya lihat istri

saya tidak menunjukkan kecurigaan apa-apa.

Sikapnya tak berubah. Mungkin nalurinya saja yang membuatnya mencium

aroma skandal saya dengan Mumun. Akhirnya

Mumun dikeluarkan dengan alasan “Tidak beres

dalam bekerja.” Sejak itu saya tidak tahu kabar

tentang Mumun. Pembantu-pembantu penggantinya

tak ada lagi yang berwajah “layak” untuk digauli. Pernah sih ada perempuan berkulit bersih. Meski tidak

cantik tapi cukup menggiurkan. Sayangnya dia telah

bersuami. Suaminya seorang tukang bangunan. Saya

tak berani menyentuh perempuan itu. Takut. Lagi pula

perempuan itu amat santun, lemah lembut, dan

sangat menyayangi kedua anak saya, sehingga saya berusaha menjaga agar perempuan itu betah

bersama kami.

Link Terpercaya sebagai berikut : Bandar TogelBandar Bola , Agen SBOBETBandar Casino IndonesiaSlot TerpercayaBandar Slot Online , Taroslot

Silahkan di Add Contact Kami ya Bosku

WHATSAPP : +62813-8453-6907
TELEGRAM : taroslot_bot

LINE : 82116524506
TWITTER : @tarosl0t

Terima Kasih ^^

Komentar