Dika Pria Perkasa
Cerita Dewasa Taroslot-USIA bukan merupakan penghalang bagi dua orang yang saling mencintai. Demikian pula halnya habis Dika dan Yayuk. Dika, remaja yang duduk di kelas 1 SMA dan baru berusia 16 tahun, saling mencintai habis Yayuk, janda kece berusia dua puluh dua tahun. Mereka saling berjanji tidak akan menyerahkan tubuh masing-masing kepada perempuan atau lelaki lain. Namun ternyata janji itu sulit ditepati, Yayuk menyerahkan tubuhnya kepada Jojo, rekan sekerjanya yang berusia 10 tahun, Dan kemudian terpaksa pula menyerahkan tubuhnya pada pak Kadir. Kepala bagiannya, habis pertimbangan kuatir Pak Kadir bertindak macam-macam yang mengganggu reputasi kerja Yayuk, jika kehendak lelaki itu tidak dipenuhi.Demikian pula dengan Dika.
Perempuan kedua yang pernah dientotnya adalah Meti, janda kece yang tinggalnya lebih kurang tiga ratus meter dari rumahnya, Meti memang sudah lama menaruh perhatian pada Dika. Suatu hari, waktu Dika pulang sekolah dipanggilnya dengan alasan minta tolong memindahkan lemari. Yang terjadi sesudah memindahkan lemari, Dika dan Meti tidur seranjang.
Perempuan ketiga yang dientot Dika, adalah Asti, yang sebenarnya sudah punya suami, tetapi tak puas dengan suaminya. Asti berhubungan dengan Dika, melalui perantaraan Meti.
Hari itu, setelah mengerjai Asti, sampai perempuan kece itu kepayahan, Dika memindahkan sasarannya kepada Meti. Janda centil ini juga dikerjai sampai kepayahan. Lalu ganti Asti yang terangsang kembali, mencumbu kontol Dika yang luar biasa. Disaat Asti sedang asyik, Meti juga terbangun dari tidurnya yang cuma beberapa saat. Meti yang sudah segar kembali, dan lalu Meti mendekati Asti yang sedang asyik menjilati dan mengulum-ngulum kontol Dika.
“Asti! Udah dong! Aku juga kepingin!” ujar Meti sambil mengambil alih kontol yang semakin ngaceng itu.
Gantian kini Meti yang menjilati dan mengulum-ngulum kontol Dika. Agaknya Asti masih juga belum puas. Jika Meti mengulum kepala kontolnya, maka Asti menjilati batangnya. Dan jika Meti menjilati batangnya, Asti mengulum-ngulum dan menggigit-gigit kepala kontolnya.
Karena kontolnya terus menerus dicumbu dua perempuan kece, apalagi yang mencumbu termasuk perempuan yang berpengalaman, mau tidak mau pertahanan Dika goyah juga. Dika berusaha bertahan agar dapat lebih lama. Namun pertahanannya semakin goyah juga, sampai akhirnya tibalah saat yang dinantikan kedua perempuan kece centil dan syarat pengalaman itu. Kepala kontol Dika menyemprotkan cairan kenikmatan yang kental, putih dan licin sekali. Kedua perempuan keca itu berebutan, ber gantian menghisap dan mereguk cairan yang menyembur itu, sementara tangan Meti dengan giat mengocok pangkal kontol Dika supaya cairan itu keluar sehabis-habisnya.
Banyak sekali cairan yang disemburkan oleh kepala kontol Dika. Direguk habis oleh kedua perempuan itu. Lalu dengan puas, perempuan-perempuan kece itu menyudahi permainannya.
“Hmmh, enak sekali punyamu, Dika!” ujar Meti.
“Pejuhmu gurih dan wangi” menambahkan Asti.
“Kereguk habis, supaya akupun memperoleh kekuatan dan keluarbiasaan seperti kamu!”.
Dika tidak berkata apa-apa. Meti dan Asti membaringkan tubuhnya masing-masing di samping kiri dan kanan Dika. Begitu Meti baru saja menelentang, Dika bangun dari sikap berbaringnya. Asti kaget sekali ketika tiba-tiba Dika menyergap dan menindihnya. Begitu cepatnya, sehingga Asti tak sempat lagi menghindar. Asti hanya menjerit:
Taroslot Bandar Togel Online dan Bandar Slot Terbesar di Indonesia
“Auw! Dika! Jangan aku! Meti saja! Meti lebih kuat dari pada aku!”
Namun Dika tidak menghiraukan ucapan Asti. la dengan cepat menahan kedua paha Asti dengan kedua pahanya yang kukuh. Asti tidak dapat lagi berkutik. Selangkangannya terkangkang selebar-lebarnya. Dan Asti tak mampu lagi menolak masuknya kontol Dika yang sangat luar biasa itu.
“Aduh, Dika…!, Jangan diteruskan. Udah akh. Ampun! Cabut lagi, Dika! Meti saja kamu kerjai”
“Nggak mau, akh! Aku kepingin kerjai Asti, kan barusan Asti kepingin jadi pacarku!” ujar Dika yang menahan gerakannya, membiarkan kepala kemaluannya.
Tepat berada dimulut nonok Asti. Dengan kata lain Dika membiarkan mulut nonok Asti mencekik leher kontolnya.
Asti hanya dapat berkelojotan tanpa mampu malepaskan diri.
“Aku barusan bohong, Dika. Sungguh aku tobat, tidak mampu menghadapimu. Aku lemah. Oh, Dika! Jangan kerjai aku. Aku tidak inqin jadi pacarmu!”
“Tanggung sih. Asti” ujar Dika dengan tenang. “Habis, punyaku sudah keburu masuk, sih !”
“Cabut saja lagi, Dika. Cabut saja. Aku…. aku…. aku…. akhh!” sekali lagi Asti menjerit kecil bilamana Dika mendorong pantatnya, sehingga kepala dan batang kotol Dika menggelosor masuk.
Asti mendesah-desah. Ia segera menyadari, bahwa biar bagaimana pun ia merintih, Dika tidak akan mencabut kontolnya. Lagi-lagi Asti mengherani. Kontol yang barusan habis-habisan dikerjain dua perempuan manis, dan barusan menyemburkan cairan banyak sekali, masih saja mampu bertarung. Asti pasrah, belahan nonoknya ditusuk dan dijelajahi kontol Dika.
Sementara itu Meti yang sudah naik spaning sejak barusan dia mengulum-ngulum kontol Dika dengan gembira memberikan semangat pada Asti agar memberikan perlawanan berarti.
“Ayo, Asti lawan! Jangan biarkan Dika seenaknya mempecundangi dirimu. Ayo Asti. Sedikit-sedikitnya, kamu harus lebih lama dibandingkan yang pertama!”.
Rupanya ada juga kegunaannya dorongan semangat dari Meti. Kali ini Asti dapat bertahan sedikit lebih lama. Berbeda beberapa menit sebelumnya, akhirnya menyemprotkan cairan kenikmatannya.
Seperti biasanya, Dika terus menyerang habis-habisan. Asti terkulai pasrah membiarkan dirinya diperlakukan semau Dika. Merintih pun percuma. Dan sebagaimana halnya Meti, karena terus-menerus dikerjain. Asti kembali mendapatkan tenaga baru untuk mengimbangi permainan Dika, dengan tiba-tiba untuk kemudian sekali lagi mencapai puncak kenikmatan. Dibandingkan dengan Meti, agaknya perlawanan Asti masih belum memadai. Ini dapat dimaklumi, karena baru pertama kali inilah Asti menghadapi Dika!
Akhirnya setelah Asti sama sekali tak berdaya, karena berkali-kali orgasme, Dika memindahkan sasarannya kepada Meti perempuan centil gatel yang sudah percaya diri menerima Dika dengan gembira. Ia menelentang sambil mengangkangkan kedua pahanya tanpa dipaksa. Bahkan ia sendirilah yang menggemgam dan menuntun serta meletakkan kepala kontol Dika yang luar biasa ngacengnya itu pada mulut nonoknya dan msmberi komando.
“Ayo, Dika sayang, tusuk, dong! Aku sudah siap!” Dan sejurus kemudian, bila Dika mendorong pantatnya, Meti tersentak tubuhnya sambil lersendat:
“Ehg”
Agak kaget juga Meti menerima tusukan maut itu. Pada detik berikutnya permainan yang penuh dengan romantika inipun dimulai. Meti benar-benar sudah mampu mengimbangi permainan Dika. Ia jadi ketagihan menerima hunjaman-hunjaman maut dari kontol yang perkasa ini.
“Dika sayang….!” ujarnya sambil menciumi bibir Dika dengan bernafsu dan punuh kasih sayang.
“Kamu jangan bosan-bosan kemari. Kapan saja aku siap menerima, sayang. Aku sanggup melayanimul”
Dika membalas ciuman-ciuman Meti tak kurang hangatnya sambil tak henti- hantinya menghujamkan kontolnya.
“Tapi Mbak. Aku kuatir ada yang marah. Pacar Mbak, misalnya….” ujar Dika tanpa mengurangi kesibukannya.
Meti tersenyum.
“Kau tak parlu kuatir sayang. Pacarku adalah lelaki-lelaki yang berduit. Tapi khusus kamu, aku tidak membutuhkan duitmu!”
“Habis, apa yang Mbak butuhkan dariku?” tanya Dika polos,
“lni yang Mbak butuhkan. Tusukan mautmu!” ujar Meti. “Oukh. hmm…. enaknya! Tusukan yang begini belum pernah Mbak peroleh dari lelaki-lelaki lain. Ayoh, sayang. Terus! Hunjamkan kontolmu kuat-kuat. Sekarang punya Mbak sudah cukup kuat menerima kontolmu ini. Ssh… hmm, ya, begitu… ehg! Hmm… ehg! Sssh… ehg!” tersendat-sendat Meti mangimbangi permainan Dika.
Sebagaimana biasa, Meti terlebih dulu naik, spaning. la terdesak hebat. Meski sudah berusaha memompa semangat dan tenaga sekuat kemampuannya, namun akhirnya jebol juga. Dika terus juga menyerang menggebu-gebu. Dan kemudian barulah keduanya mencapai puncak kenikmatan. Dika mencabut kontolnya dari belahan nonok Meti yang banjir itu, lalu rebah disamping tubuh si janda. Meti memeluknya dengan mesra.
“Dika. Aku mencintaimu, sayang,” ujarnya seraya menciumi bibir Dika berkali-kali.
Dika cuma menarik napas panjang.
BESOKNYA. sekitar pukul sepuluh siang, Meti mendatangi rumah Asti, Asti baru saja selesai belanja dari tukang sayur yang lewat.
“Semalaman aku nggak dapat tidur,” ujar Asti sambil meletakkan belanjaannya di meja dapur. “Punyaku perih. Ih, bukan main kontolnya si Dika itu. Aku nggak pernah berpikir, kok ada yang segede itu, ya?”
Meti ketawa. “Apa yang kau alami kualami, juga, Asti. Selama dua hari jalanku nggak benar. Seolah-olah kurasakan kontol Dika masih nyangkut dinonokku!”
“lya! Aku juga! Brengsek juga itu orang. Kayanya, nonokku diganjal. Jadi jalanku ngegang. Uh! Suamiku tanya kenapa jalanku agak lain. Kubilang saja, pahaku keseleo. Padahal, sih… hi-hi-hi, kalau dia tahu apa yang terjadi sebenarnya, dapat pingsan dial!”
Meti jadi ikut tertawa mendengar ucapan Asti.
“Aku benar-benar kapok sama si Dika. Amit-amit, deh!” ujar Asti lagi.
“Sekarang kamu bilang begitu, Asti. Tapi nanti, kamu akan ketagihan.”
“Ketagihan?!” Asti membelalakkan mataya.
“Bagaimana aku dapat ketagihan?! Kuulangi lagi ngewe dengan si Dika, dapat-dapat nonokku robek oleh kontolnya!”
Meti ketawa lagi. “Aku juga berpikiran begitu mulanya, Asti. Tapi setelah Dika memaksaku, eh…. anehnya, nonokku nggak sakit lagi Asti. Malah…. hi-hi, sory, nich. Enak gitu. Lebih enak dibandingkan dientot lelaki-lelaki lain.”
“Ah, Masya?!”
“Ee, nggak percaya?! Sesudah aku dientot buat kedua kali, eh, aku jadi kepingin lagi. Coba, deh. Kamu coba lagi kalau nggak ketagihan, iris kupingku!”
Asti berpikir sesaat. Timbul keinginannya untuk mencoba lagi seperti yang disarankan tetangganya.
“Tapi nonokku masih perih tuh!” ujar Asti sambil meraba-raba selangkangannya.
“Ya, jangan sekarang. Tunggu saja dua tiga hari lagi. Sampai perihmu hilang, okey?”
“Kita lihat saja nanti,”
Tapi ternyata janji dua tiga hari lagi itu mulur sampai seminggu, berhubung Meti dan Asti sama-sama punya kesibukan yang menyita waktu. Setelah seminggu berlalu, barulah keduanya punya kesempatan. Siang itu sepulang sekolah Meti mengajak Dika untuk mampir dirumahnya. Dan Dika yang sudah seminggu tidak tersalurkan nafsunya menyambut gembira ajakan tersebut. Sambil merangkul tubuh bahenol Meti, Dika pun memasuki rumah Meti.“Mbak kangen sama kamu, Dik!” ujar Meti setelah Dika masuk kedalam rumahnya.
Dika senyum-senyum sambil duduk dikursi ruang tamu.
“Sama Mbak. Aku juga kangen.” ujar Dika.
“Yang bener Dik. Kamu kangen sama aku atau Meti?” sahut Asti yang keluar dari kamar Meti.
Mendengar suara tersebut Dika terkejut ternyata di rumah tersebut selain Mbak Meti ada Mbak Asti juga. Sungguh suatu kejutan bagi Dika. Setelah seminggu tidak ngentot, siang ini dia dapat melampiaskan nafsunya tersebut bahkan dengan dua orang perempuan sekaligus yang keduanya sama-sama cantik dan sama-sama mempunyai tubuh yang aduhai yang bisa membangkitkan nafsu setiap pria yang memandangnya. Maka kemudian Dikapun menjawab pertanyaan Asti,
“Kangen dua-duanya” jawab Dika.
“Dik, sekarang kamu jawab secara jujur. Selama kamu entoti aku dan Asti, mana yang lebih enak?” tanya Meti memancing, sambil menggelendot manja pada Dika.
“Secara jujur nikh, Mbak. Mbak Meti sama Mbak Asti sama enaknya sih! Mbak berdua membuat Dika ketagihan” jawab Dika.
“Terang saja dia bilang sama enaknya, Met. Soalnya kamu nanyanya di depanku. Coba kalau nggak ada aku, pasti dia akan jawab lebih enak kamu!” potong Asti sambil menjewer kuping Dika. “Dika kan ada maunya tuh. Supaya dia bisa entoti kita berdua!”
Dika mengaduh-aduh lantaran kupingnya dijewer Asti kelewat keras.
“Ampun Mbak. Ampuuun! Memang aku ada maunya. Tapi apa yang kubilang barusan, jujur, kok. Mbak Meti dan Mbak Asti nonoknya sama enaknya, kok. Biarpun nggak di depan Mbak Asti atau Mbak Meti, aku tetap jawab begitu. Nonok Mbak berdua bikin Dika ketagihan”
“Benar begitu, Dik!”
“lya….. Mbak!”
Asti dan Meti saling lirik sambil sama-sama tersenyum penuh arti, tiba-tiba.
“Dik, ayo kita ulangi seperti yang lalu, Dik. Nonokku sudah gatel pingin digaruk kontolmu yang gede itu.” ujar Asti sambil melepaskan pakaian.
Dika tentu saja menyambut gembira. Meti pun melepaskan pakaiannya. Setelah keduanya bugil, lalu keduanya dengan tak sabar melepaskan pakaian Dika. Dan melihat tubuh montok kedua perempuan yang sudah bugil itu, Dika pun mulai naik birahinya dan langsung terangsang.
“Siapa dulu nikh?” tanya Dika.
“Aku!” kata Meti sambil memeluk erat tubuh Dika dan Dika pun kemudian mengangkat tubuh montok Meti dan dibawanya kedalam kamar tidur Meti yang diikuti juga oleh Asti. Tubuh montok Meti dibaringkannya ke atas tempat tidur. Lalu Dika mulai menggerayangi tubuh Meti. Dirabanya bagian-bagian yang sensitip. Mulai dari kedua susunya yang mengkal indah hingga nonoknya yang berjembut lebat itu. Sambil mengenyot kedua pentil susu Meti secara bergantian, tangan Dika mencolok-colok lubang nonoknya dan sesekali itilnya diusap-usap dengan jempolnya.
“Oh… oh… entoti aku Dika…. oh aku… aku…. nggak kuat lagi, entoti aku Dik, uuuuhhh….” Meti menggeliat-geliat menikmati setiap rabaan dan elusan tangan Dika yang makin liar pada nonoknya.
Dika terus menggumuli tubuh montok Meti yang tidak henti-hentinya mengerang dan mengeluh.
“Ayo kita ngewe Dik…. uh… cepat, aku… aku sudah ingin merasakan tusukan kontolmu Dika” Meti mendesah-desah,
“Jangan kuatir Mbak, aku akan membuat Mbak puas hari ini….” kata Dika sambil terus menyedot dan mempermainkan pentil susu Meti yang berwarna hitam dan besar itu dalam mulutnya.
Dika menjilat dan menyedot pentil susu Meti yang kiri kemudian berpindah ke pentil susu yang kanan bergantian. Tubuh Meti terkejang-kejang seperti orang kena setrum listrik sementara pinggulnya berputar-putar. Tangannya pun mulai liar mengocok kontol Dika yang mulai ngaceng.
“Uuuhhh… Dik, besar sekali kontolmu! Uh… enak kalau masuk kedalam nonokku… ayo cepat tusuk aku Dik….. ayo… hhhhhh…., uuuggggh…..” Napas Meti panas dan memburu hebat.
Dari susu kini jilatan Dika mulai beralih kebawah. Kini Dika beralih menjilati perut Meti, kemudian turun ke arah selangkangan Meti dan akhirnya sampai ke nonok Meti yang berjembut hitam lebat. Nonok Meti tampak sudah basah berkilat akibat lendir birahinya yang keluar dari nonoknya. Dengan kedua tangannya Dika mulai menyibakkan bulu-bulu jembut Meti yang menutupi lubang nonok Meti dan dengan pelan tapi pasti dia mulai mendekatkan wajahnya pada nonok Meti. Seolah tak sabar pingin segera merasakan sensasi lidah Dika pada nonoknya, Meti menekan kepala Dika seolah-olah memberi perintah agar Dika segera mulai menjilati nonoknya. Dalam keadaan seperti itu, Dika dapat merasakan bau nonok Meti yang sudah basah oleh lendir birahinya dan Dika pun dengan bernafsu mulai menjilati nonok Meti dan Dika pun merasakan kini kontolnya makin ngaceng.
“Enak Dik?” tanya Meti lirih sambil melihat lidah Dika menjilati nonoknya.
“He eh Mbak… enak dan bau nonok Mbak bikin Dika jadi tambah terangsang” kata Dika sambil lidahnya terus menjilati setiap belahan nonok Meti.
Meti semakin mendorong kepala Dika kearah belahan nonoknya sehingga kepala Dika semakin terjepit di kedua pahanya.
“Ooooooo… Dik, terus jilati nonokku Dik…. ooooohhhhh.., terus… terus…. sedot, iya sedot…. aakkkhh it…….it…. itilku!!! Oooh…. sedot iiiitilku Dik, ooh…. enak… ya, ya jilati lendirku Dik, jilat yang bersih Dik…… aaaakkkhhh…..”
Dika semakin membabi buta memburu lendir yang keluar dari nonok Meti dan dengan bibir dan lidahnya lendir tersebut dijilat dan disedot kedalam mulutnya. Rasanya asin dan agak hangat. Dijilat habis lendir tersebut dan sesekali dia kenyot dan jilat itil Meti yang sudah sangat bengkak akibat nafsunya yang semakin memuncak. Saat itilnya dikenyot Dika, Meti pun melolong dan tubuhnya menggelepar-gelepar seperti orang sekarat menahan birahinya yang sedang dipermainkan oleh Dika. Namun Dika tak menghiraukannya, dia terus mengerjai nonok dan itil Meti dengan bibir dan lidahnya.
Meti semakin tidak tahan diperlakukan seperti itu oleh Dika, dan dengan cepat dia merubah posisi sehingga dia kini berada di atas Dika. Meti mengulek nonoknya dimulut Dika,
Taroslot Bandar Togel Online dan Bandar Slot Terbesar di Indonesia
“Ruuuuud…… aku nggak kuat lagi!!! Teruuussss… oh… oh… oh… Ruuud…” Meti menghujamkan nonoknya ke wajah Dika dan memutar-mutar pinggulnya.
Dika pun menyambut gerakan Meti dengan menjulurkan lidahnya dan lidahnya yang dikeraskan tersebut mirip seperti kontol kecil yang menerobos keluar masuk dalam liang nonok Meti yang membanjir itu. Lendir yang keluar dari nonok Meti banyak sekali sampai berjatuhan membasahi wajah Dika. Dan tubuh Dika pun menjadi panas dingin merasakan sensasi dari adegan ini.
“Aduh Dik… enak sekaliiiii…. sshhhh…. oooohhhh…” Meti terus meracau sambil terus menggosok-gosokkan nonoknya ke mulut Dika dan tampak Dika pun makin rakus menjilati dan menyedot-nyedot nonok yang hangat dan basah itu.
Sementara itu Asti yang sedari tadi melihat pergumulan Meti dan Dika tersebut, menjadi semakin terangsang birahinya. Asti melihat kontol Dika yang ngaceng itu nganggur, maka dengan segera dia mulai mengemut batang kontol yang gede dan panjang itu. Segera Dika pun merasakan kontolnya mulai menerobos mulut Asti dan dirasakan lidah Asti menjalar diseluruh kontolnya.
“Ouhhh….. nikmat banget Mbak Asti, terusin isep yang kuat kontolku Mbak…” desah Dika sambil terus mengerjai nonok Meti.
Asti makin asik mengulum kontol Dika dengan ganasnya sambil tangannya memainkan biji pelirnya.
“Ouhh… Mbak Asti enak banget, terus… kocok terus kontolku pake mulut Mbak”, Dika mendesah kembali merasakan nikmatnya mulut Asti pada kontolnya.
Asti pun melanjutkan mengulum kontol Dika. Tengah asyik-asyiknya mereka bertiga bergumul, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ternyata pintu kamar tidak terkunci dan seseorang telah berdiri diambang pintu yang terbuka.
“Hah…!!!” orang tersebut berdesah kaget. Mulutnya ternganga.
Asti, Meti dan Dika tidak kurang kagetnya.
“Heni…!” Asti menyebut nama perempuan yang berdiri di ambang pintu itu.
“Kalian sedang… ngen…?!” Heni tidak melanjutkan ucapannya.
Seperti dikomando, Meti dan Asti melompat dari tempat tidur, bersama-sama menarik lengan Heni ke dalam kamar dan kemudian Meti mengunci pintu kamar tersebut.
“Ayo Hen, kamu mesti ikut berpesta bersama kami!” ujar Meti.
Lalu Meti dan Asti membukai pakaian Heni. Heni meronta-ronta.
“He?! Kalian gila?” serunya.
“Aaah, ayolah Hen. Kamu rugi kalau tidak ikut barpesta dengan kami. Rugi kalau tidak ikut merasakan kontol super ini” ujar Meti sambil mencopoti BHnya sementara Asti membukai CDnya.
Lalu Meti memberi komando pada Dika, “Ayo, Dika! Kamu entot dulu teman kami ini!”
Dika tidak perlu dikomando dua kali. la segera mengangkat tubuh bahenol Heni ke atas tempat tidur. Heni meronta-ronta. Tapi akhimya tak berdaya karena Meti dan Asti menekan lengan-lengannya kanan kiri ke atas kasur, sedangkan Dika menahan kedua pahanya dengan kedua pahanya sendiri yang kekar dan berbulu lebat.
“Ssshh… hmm,” Heni mengagelinjang-gelinjang bila tangan Dika mulai menggerayangi tubuhnya yang mulus.
Diciuminya ketiak Heni yang berbulu lebat dan seketika Dika mencium bau yang merangsang. Diremas-remasnya sepasang susunya yang putih montok dengan pentilnya yang tegak menantang kemerahan, Heni mulai merasakan kenikmatan sentuhan-sentuhan yang dilakukan oleh Dika. Apalagi jika Dika mulai menggosok-gosokkan kontolnya yang besar dan panjang itu ke pahanya.
Heni menjadi tambah terangsang saat jari-jari tangan Dika mulai menggosok-gosok belahan nonoknya.
“Uf! Aikh! Sssh…., gila! Hmmh… Oukh! Ssh…!” ia mendesah-desah bilamana nonoknya dikobel-kobel jari-jari tangan Dika.
“Aku… aku… paling nggak tahan kalau nonokku sudah dimainin. Ssssssh… Oukh… mm, enakss…!”
Sejenak kemudian sambil menekan paha Heni dengan kedua tangannya, Dika mengamati keadaan ditengah selangkangan Heni. Tampak jembut Heni hitam dan super lebat sehingga menutupi lubang nonoknya. Dan ketika bulu-bulu jembutnya disibakkan, maka tampak nonok Heni yang berbentuk elips. Dibandingkan dengan nonok Meti dan Asti, nonok Heni ini agak mumbul ke atas. Garis belahan nonoknya pun lebih panjang. Dan yang bikin Dika tambah nafsu adalah lubang nonok Heni. Kondisi lubang nonok yang merah itu mulai basah dan ketika jari tangannya mencoba dimasukkan kedalam lubang itu, terasa jarinya seperti dijepit dan disedot oleh lubang itu. Seketika Dika membayangkan kenikmatan yang akan diperolehnya jika kontolnya nanti masuk ke dalam lubang yang basah dan hangat.
“Ayo, Dik! Tusuk nonok Heni dengan kontolmu. Heni sudah kepingin banget tuh!” ujar Meti sambil terus menekan lengan Heni.
“Biar si Heni juga ikut merasakan kontolmu Dik. Ayo buruan tusuk nonoknya dengan kontolmu!” ujar Asti.
Taroslot Bandar Togel Online dan Bandar Slot Terbesar di Indonesia
Dika menggenggam kontol besarnya. Kemudian digosok-gosokkannya kepala kontolnya yang sudah sangat bengkak itu ke itil dan belahan nonok Heni yang sudah basah dan mengkilat oleh lendir nonoknya pertanda dia sudah terangsang. Heni menelan ludah berkali-kali menunggu tusukan kontol Dika yang gede tersebut. Lalu Dika menempatkan kepala kontolnya tepat di mulut nonok Heni yang sudah mekar siap menerima tusukan dari kontolnya.
Kemudian Dika mulai menekan pantatnya sehingga kontolnya melesak masuk kedalam lubang nonok Heni.”Ehg…..!” tubuh Heni tersentak keatas bilamana kontol yang bukan main besar dan panjangnya itu melesak ke dalam lubang nonoknya yang sempit.
Sejenak mata Heni terbelalak karena kaget. Meti dan Asti berpandangan sambil tersenyum.
Lalu Asti bertanya. “Gimana Hen?”
“Ampun, As! Gede banget kontolnya!… Ukh’” Heni memejamkan matanya.
Dika mendorong lagi kontolnya semakin melesak ke dalam nonok Heni. Tubuh Heni tersendat-sendat lagi.
“Gimana, Dik?” kali ini Meti yang bertanya pada Dika.
“Enak Mbak, nonok Mbak Heni hangat dan menggigit!” ujar Dika seraya mendesah-desah.
Secara jujur, Dika harus mengakui, bahwa nonok Heni lebih nikmat ketimbang nonok Meti dan Asti. Nonok Heni lebih hangat dan menggigit. Dinding-dinding nonok Heni menjepit erat bagaikan melekat di batang kontol Dika yang besar dan panjang.
“Aduuuuh……, ampuuun! Sssaaa… kitttsss! Rasanya nonokku penuh” Heni merintih-rintih sambil kepalanya oleng kekiri dan kekanan.
“Terusin, Dik! Ayo tancap! Sodok terusssss……….” ujar Heni memberi komando.
Dika memaju mundurkan kontolnya di nonok Heni dengan pelan dan penuh perasaaan meresapi jepitan dan empotan dinding-dinding nonok Heni yang bagaikan hidup memijit-mijit batang dan kepala kontolnya.
Keluar masuknya kontol Dika benar-benar merupakan pemandangan yang merangsang. Ketika kontol yang besar dan panjang itu ditusukkan kedalam nonok Heni, maka mulut nonok Heni melesak kedalam, menjadi kempot. Sedangkan ketika kontol tersebut di tarik dari dalam nonok Heni sampai sebatas lehernya, maka mulut nonok Heni ikut tertarik ke luar, menjadi monyong.
“Aduuuh….. Dik! Sssaakiittss….! Mmm… ammpunn, Dik…! Baru kali ini nonokku merasakan dientot kontol yang segede dan sepanjang ini” mulut Heni berkali-kali bilang sakit dan meminta-minta ampun, namun pinggang, pinggul dan bokongnya bergoyang memutar, mengimbangi keluar-masuknya kontol Dika.
Dan agaknya. Terlihat oleh Meti dan Asti bahwa Heni mulai menikmati dientot oleh Dika sehingga Meti dan Asti melepaskan pegangan pada kedua lengan Heni. Begitu lengan-lengannya bebas dari pegangan Meti dan Asti, Heni pun mendekap erat tubuh Dika. Terhadap Heni, Dika agak heran juga. Heni berbeda dengan Meti dan Asti. Walaupun mulutnya terus menerus bilang sakit, namun ternyata mampu mengimbangi serangan-serangannya. Mungkin benar kata Heni bahwa dirinya belum pernah merasakan kontol yang segede dan sepanjang kontolnya dan terasa pula oleh Dika betapa masih sempitnya nonok Heni. Ini mungkin yang menyebabkan Heni berkali-kali bilang sakit namun begitu dia merasakan gesekan batang kontol Dika menggesek dinding-dinding nonoknya, Heni pun merintih nikmat.
“Aduuuuuh….. Dik… terus Dik…..” kata Heni terputus-putus
“Kalau sakit kontolnya dicabut ya?!” ujar Dika sambil bersikap hendak mencabut kontolnya.
“Jangan… Dik!” ujar Heni sambil memeluk Dika lebih erat, kuatir Dika benar-benar mencabut kontolnya.
“Habis, Mbak Heni aduh-aduh terus sih…..!” kata Dika.
Terasa oleh Dika nonok Heni lebih enak dibanding nonok Meti dan Asti. Maka Dika jadi senang sekali dan lebih bersemangat menghujam-hujamkan kontolnya itu kedalam nonok Heni. Mata Heni sebentar terpejam sebentar terbuka menikmati tusukan kontol Dika yang besar dan panjang itu.
“Mbak benar-benar sakit, ya?!” tanya Dika yang penasaran kepingin tahu melihat ekspresi wajah Heni. “Kucabut aja kontolku ya???” ujar Dika lagi.
“Jangan, Dik. Jangan… jangan dicabut. Sakit tapi ssshhh… enaaak. Ayo tancap saja terus Dik! Tekan yang kuat! Sssh… akh!” Heni melepaskan napasnya tiap Dika menekan masuk kontolnya yang luar biasa panjang dan besar itu.
Asti dan Meti berpandangan lagi. Lalu sama-sama tersenyum lagi. Keduanya berpikiran sama.
“Brengsek juga si Heni. Kupikir, dia akan kelojotan dan pingsan kepayahan. Eh, nggak tahunya, dia malah keenakan! Huh!”
Asti yang iseng mengintip dari arah pantat Dika. Menyaksikan pemandangan keluar-masuknya kontol Dika di belahan nonok Heni membuat ia jadi terangsang. Lebih-lebih menyaksikan goyangan bokong Heni yang begitu erotis dan mendengar desahan dan erangan yang keluar dari mulut Heni. Ternyata Heni yang diperkirakannya seorang perempuan pendiam, ternyata lebih berpengalaman daripada dirinya. Baru saja Asti mencari akal, bagaimana caranya melampiaskan nafsunya yang tertahan itu, Meti telah mendahuluinya. Meti mengangsurkan selangkangannya ke wajah Dika yang sedang asyik mengentot tubuh Heni. Dika mengerti apa yang diingini Meti. Perempun itu sedang konak dan ingin agar nonoknya dicumbui.
Dika mencabut kontolnya dari dalam nonok Heni. Langsung Heni protes karena dia baru enak-enaknya,
“Dika… kok dicabut sih… kontolnya… lagi tanggung nih…!
“Sebentar mbak, aku ingin mbak yang diatas. Kasihan tuh mbak Meti dan mbak Asti…” kata Dika sambil merebahkan dirinya sehingga posisinya jadi menelentang dibawah,
“Mbak Meti sudah konak tuh…. Biar Dika jilati dulu nonoknya yang sudah gatel pingin dientot… sambil menunggu giliran” sambung Dika.
Kemudian Heni memegang kontol Dika dan sekejap kemudian “Sleeeeb….. sleeeeb…” kontol Dika telah melesak kedalam nonoknya.
Heni dengan bersemangat memacu tubuhnya diatas Dika dan sesekali ia memutar-mutar pantatnya.
“Uuuuufh… akhhhhh… eeeessst” seru Dika dengan suara serak parau, sambil tangannya menarik pantat Meti sehingga belahan nonoknya tepat diatas mulutnya.
Lalu kedua tangannya menarik bibir-bibir nonok Meti kekiri dan kekanan, sehingga tampaklah bagian dalam nonoknya yang sudah basah, lengkap dengan lubang nonok dan itilnya yang nyempil disudut pertemuan atas dua bibir nonoknya. Pemandangan yang indah dan kesempatan baik itu tentu saja tidak dilewatkan begitu saja oleh Dika. Hidungnya segera saja dibenamkam didalam belahan nonok Meti yang sudah benar-benar mekar itu. Meti mendasah-desah seraya meliuk-liukkan pinggangnya. Dan ia makin menekankan bokongnya dan menggosok-gosokkan nonoknya ke wajah Dika.
“Dika….. ouhh Dika….. ayo jilati nonokku sayang…. ouh sshh… aku eeennak…” kata Meti sambil terus merintih.
“Hmm..” Dika bergumam sambil terus menciumi nonok Meti.
Perlahan namun pasti, akhirnya semakin menyeruaklah bau khas yang dikeluarkan dan ditebarkan oleh lendir yang mulai keluar dari nonok Meti itu.
Kedua paha Meti terbuka maksimal, jadi bentuk nonoknya merekah merah menambah nafsu birahi Dika. Sedikit demi sedikit Dika terus menjilati kebasahan yang melekat di bibir nonok Meti. Semakin lebar Meti membuka pahanya, sehingga semakin terkuaklah bibir luar nonok Meti memperlihatkan lubang yang mulai menganga yang di atas pucuk kemaluan itu itilnya bertengger dengan indahnya seolah bergetar tak sabar menunggu keliaran dari lidah dan mulut Dika.
Dan, “Ouhh Dik… Yahh… esstthh… Ayo terusss sayanghhhh…! Jilat itilnya sayanghhh…” Meti terus meliuk-liukkan pinggangnya. “Ya… ya…, gitu. Sssshhhh… akh! Mmmm enaaaakkkkk… Dik! Terussss, Dik! Oukh enaaaaaakkk… bangetttssss… Dik!!!” dari mulut Meti pecah rintihan keras begitu lidah Dika menjelajahi bagian dalam lubang nonoknya, dan mengenyot itil yang sedari tadi mengharapkannya.
Setiap milimeter apa yang ada di liang nonok Meti tidak ada yang terlewati Dika jilati dan terus dijilati. Meti tambah kelonjotan saat lidah Dika menerobos masuk ke dalam lubang nonoknya dan menjilati itil yang ada di dalam sana. Lalu kembali lidah Dika menjilati bibir bagian dalam nonoknya terus ke atas sampai menyentuh itilnya. Ada 5 menit Dika memainkan itilnya. Sementara erangan Meti makin keras dan tubuhnya semakin bergetar hebat. Dika pun mengimbanginya dengan mulai menggigit-gigit kecil bibir nonoknya dengan bibir dan giginya.
“Ruuuudddd… kamu hebat Sayang… ouuhh… terus… ouuff… Dika. Ssshh… yaahh… teruss… Sayang..”
Kembali ke itil Meti, bibir Dika mulai menghisap itil Meti di dalam mulutnya, sambil diemut-emut seperti layaknya ngemut permen. Itil yang ada di dalam mulut Dika itu diemut dengan lembut sementara lidahnya memainkannya di dalam nonok Meti.
“Yahh teruss… hisap itilku…!!! Ouuff… ssshhh… yang kuat Dik. Terus… yahh terus… oouuhh Dika… aku belum pernah merasakan jiltan seenak ini. Aduuhh… pintar banget sih kamu Dik… Ooohhhh… Mmmmmm…” rintih Meti yang seperti memberi semangat buat Dika untuk terus menjilati dan menghisap itilnya lebih kuat.
Tubuh Meti berkelonjotan ke sana ke mari, sementara jari-jarinya menjambak rambut Dika, dan lidah Dika pun makin ganas dan liar menghisap dan mengemut itilnya, tiba-tiba,
“Sruutt… sruutt… gleekk… sruutt… sruutt…” mulut Dika dibanjiri lendir yang begitu banyaknya yang keluar dari nonok Meti.
Dika tidak mampu lagi menghindarinya karena Meti bukan lagi menarik-narik rambut Dika, tapi membenamkan wajah Dika kuat-kuat di lubang nonoknya dengan menekan kuat kepala Dika pada selangkangannya, sementara kedua pahanya menjepit kuat kepala Dika.
“Teruss… Sayang… aahh… Oouuhh… eeeesshh… nikmat sekali… esstt.. ouuff…”
“Sreett… seeerr… seerrtt… glekk. seerr… seerr… gllekk..” mau tidak mau lendir yang disemburkan dari lubang nonok Meti itu ditelan oleh Dika, karena kepala Dika oleh Meti
Entah sudah berapa kali Meti menyemburkan lendir kenikmatan yang keluar membanjiri masuk ke dalam mulut Dika. Dan entah berapa kali Dika menelannya. Karena setiap Dika mengisap itil Meti, saat itu pula lendir nonoknya menyembur kuat masuk ke dalam mulut Dika dan terus masuk ke dalam kerongkongan Dika yang berarti otomatis tertelan oleh Dika.
Tapi ternyata Dika begitu menyukai rasa lendir yang dikeluarkan oleh nonok Meti tersebut, Dika jadi malah tambah bernafsu untuk menghisap habis lendir yang terus membanjiri di dalam mulutnya.
Taroslot Bandar Togel Online dan Bandar Slot Terbesar di Indonesia
Aroma lendir yang keluar dari nonok Meti ini menambah gairahnya untuk tambah menyodok-nyodokkan kontolnya kedalam nonok Heni dan hal ini diimbangi Heni dengan menaik turunkan pantatnya sehingga kontol Dika keluar masuk nonoknya.
“Ohh…, enakk sayang…, sodok yang kuat sayang…!” desah Heni.
Setelah mendapatkan orgasmenya, perlahan-lahan tubuh Meti melemas dan jepitan pahanya pada kepala Dika pun mengendor kemudian dia merebahkan tubuhnya di samping tubuh Dika. Dengan kontol masih tetap menancap di dalam nonok Heni, Dika membalikkan posisi sehingga kini tubuhnya diatas tubuh Heni. Kemudian dengan bersemangat dia menghujamkan dalam-dalam kontolnya kedalam nonok Heni. Dan Heni pun menyambut dengan mengangkat pantatnya sambil menggoyangkan bokongnya.
Sementara itu Asti yang menyaksikan pergumulan antara Dika dan Heni sama sekali tak menyangka bahwa Heni bukan saja dapat mengimbangi permainan Dika tapi juga dapat mengimbangi kekuatan Dika.
“Kamu hebat sekali Hen, dapat mengimbangi keperkasaan Dika.” Puji Asti pada Heni.
Pergumulan Dika dan Heni kini telah berlangsung selama setengah jam namun belum ada tanda-tanda pertahanan keduanya akan bobol. Hanya keringat saja yang meleleh dari kedua tubuh tersebut. Akhirnya setelah pergumulan itu berlangsung empat puluh lima menit barulah tampak tanda-tanda pertahanan Heni mulai goyah.
“Oukh… Ruuuuud…! Tusuk yang kuat sayang… terus sayang… Aku… aku… mau… keluarrrrr… Aaaaaahhhhh…!!!!!!” tubuh Heni yang menelentang dibawah tubuh Dika berkelojotan.
Kepalanya terhempas kesana kemari sambil tangannya merangkul erat-erat tubuh Dika. Dika menghujamkan kuat-kuat kontolnya kedalam nonok Heni sehingga batang kontolnya amblas sedalam-dalamnya didalam nonok Heni. Heni merima sodokan tersebut dengan mengangkat bokongnya. Dan,
“Sreett… seeerr… seerrtt… seerrr… seeeeeerrrrr… sretttt…” nonok Heni berdenyut-denyut menyemburkan lendir orgasmenya.
“Aaaaahhhhh… Ruuuuudddd… aku keluarrrrrrr… Oukh…”
Bersamaan dengan itu, “Croot… crott… crott… croooooottttt…” kontol Dika menyemprotkan pejuhnya yang sangat banyak memenuhi rongga dalam nonok Heni.
Kali ini Dika tidak kuasa untuk menahan agar pejuhnya tidak keluar dulu, pertahanan Dika pun bobol akibat nikmatnya empotan nonok Heni yang bagai meremas, menyedot dan memijit kontolnya.
Dalam rentang waktu yang telah diarungi mereka berempat, Dika telah memberi kepuasan pada dua orang perempuan. Perempuan pertama adalah Meti yang mendapat kepuasan akibat permainan lidah Dika pada nonoknya. Sedangkan perempuan kedua yang berhasil dipuaskan oleh Dika adalah Heni. Heni mendapatkan kepuasan akibat dientot kontol Dika yang besar dan panjang.
Dika melorot dari tubuh Heni dan terlentang disamping perempuan yang lemas habis dientoti tersebut. Sedangkan Asti yang dari tadi menyaksikan pergumulan yang penuh birahi, baik antara Dika dan Meti maupun Dika dan Heni, sedari tadi mengharapkan agar pergumulan tersebut cepat selesai sehingga dirinya dapat segera menikmati kon tol Dika yang gede dan panjang tersebut memuasi dirinya.
Melihat kedua temannya telah terkapar lemas, Asti telentang disamping Dika. Ia mengangkangkan pahanya lebar-lebar, memperlihatkan belahan nonoknya yang telah mekar tersebut. Asti sudah tidak sabar pingin buru-buru nonoknya ditimpa kontol Dika.
“Dika…! Ayo dong Dik…! Sekarang giliran aku nih kamu entot… Dik! Udah gatel nih nonokku pingin digaruk sama kontolmu…” ujar Asti sambil mengusap-usap belahan nonoknya yang sudah mekar dan basah akibat nafsu birahinya yang sudah memuncak.
“Sabar Mbak, aku… aku capek sekali…! ujar Dika sambil menarik nafas panjang.
Dika memang capek sekali setelah mengelami pertempuran yang panjang melawan Heni. Kali ini Dika baru menemukan lawan yang sebanding. Heni benar-benar telah menguras tenaga Dika.
Rupanya Asti yang sudah benar-benar dalam birahi tinggi tidak mau menerima alasan Dika.
“Kamu sih terlalu lama ngentoti Heni?! Dan lagi kamu juga serakah atas bawah main…” maksud Asti, bagian bawah Dika yakni kontolnya mengerjai nonok Heni sedangkan bagian atas Dika yakni mulutnya mengerjai nonok Meti.
“Ayo Dik…! Cepetan aku sudah kepingin dientot sama kamu nikh! Lihat nikh nonokku sudah mekar begini. Kalau kamu biarkan terus begini, aku bisa mati menahan birahi.” Asti terus merengek-rengek agar Dika segera menimpanya.
Walaupun Dika masih merasa capek, tetapi karena kasihan sama Asti yang sudah kepingin sekali ditimpa olehnya maka Dikapun bangun dari berbaringnya dan merangkak diatas tubuh Asti yang sudah siap menerimanya. Dika menggosok-gosokkan kepala kontolnya dibelahan nonok Asti.
“Dik… Aku sudah tidak tahan lagi. Masukin kontolmu Dik. Ohhh… sekarang juga Dik…! Sshhh…”
Dika pun kemudian menempatkan kontolnya sebaik-baiknya agar posisinya tepat diatas lubang nonok Asti. Lalu ditekannya kontolnya kedalam nonok Asti yang disambut oleh Asti dengan mengangkat bokongnya. Dan… blessss… melesaklah kontol Dika yang bukan main besarnya itu kedalam nonok Asti sampai Asti tersendat.
“Auwwww Dik… shhhhh… enak Dik… shhhh…,” Asti mendesah sambil merem-melek menikmati tusukan kontol Dika.
“Ayo, Dik… dienjot keluar masuk… jangan ragu-ragu Dik… Tancap… egh…! Ssshhh… mmmm… ehg…!”
Dika pun mengayun-ayunkan pantatnya sehingga kontolnya yang luar biasa gedenya itu menghujam bertubi-tubi ke belahan nonok Asti.
“Ouuhhh Dik, nikmatnya, batang kontolmu udah gede panjang lagi, masuknya dalem banget nonokku sampe sesek rasanya”, kata Asti.
“Tapi enakkan”, jawab Dika.
“Enak banget Dik, sekarang enjot yang keras Dik! Biar tambah nikmat”, kata Asti lagi.
Dika masih dengan pelan-pelan mengenjotkan kontolnya keluar masuk nonok Asti. Sewaktu kontolnya ditarik keluar, yang tersisa di nonok Asti hanya tinggal kepalanya saja, kemudian dienjotkan kedalam nonok Asti sekaligus sehingga kontolnya nancap dalam-dalam di nonok Asti.
“Enak Dik, kalo dienjot seperti itu, yang cepat Dik”, rengek Asti lagi sambil terus mengempot-empotkan otot nonoknya.
Dika pun menjadi belingsatan karena remasan otot nonok Asti sehingga enjotannya menjadi makin cepat dan makin keras.
“Gitu Ruuuuud, aduh enak banget Ruuuud, terus Dik, terasa banget gesekan kontolmu ke nonok Mbak, nancepnya dalem banget lagi, terus Dik, yang cepat”, kata Asti terengah-engah keenakan.
Dika mempercepat enjotan kontolnya dengan cara yang sama, kalo ditarik tinggal kepalanya saja dan terus dienjotkan kembali kedalam dengan keras. Cara ngenjot seperti itu membuat Asti menjadi semakin liar, pantatnya menggelinjang saking nikmatnya dan Asti terus merintih kenikmatan sampai akhirnya dia tidak dapat menahan lebih lama,
“Ruuuud… gak tahan lagi Dik, aku nyampe Dik, aaaaakkhh…!”, jerit Asti.
Terasa oleh Dika nonok Asti berkedut-kedut kuat sekali meremas kontolnya yang masih keras itu. Tubuh Asti mengejang. Dengan nafas yang terengah-engah, Asti memeluk tubuh Dika erat-erat sementara kontol Dika masih tetep nancep di nonoknya. Asti menikmati enaknya orgasme oleh enjotan kontol Dika. Dika menahan gerakan kontolnya di dalam nonok Asti. Dika membiarkan Asti menikmati orgasmenya yang sudah lama ditahan pelan-pelan tubuh Asti lunglai, lemas. Sehingga pelukannya pun makin melemah.
Meti yang birahinya naik kembali karena menyaksikan adegan persetubuhan antara Dika dan Asti sedari tadi mengharapkan agar Asti segera nyampe. Maka begitu Asti telah mencapai puncak orgasmenya dan perlawanan Asti mulai melemah, Meti buru-buru menarik pantat Dika sehingga mau tidak mau kontol Dika copot dari nonok Asti.
“Ayo Dik! Gantian aku dong dari tadi kan nonokku belum merasakan kontolmu.” Kata Meti sambil menunggingkan bokongnya.
Meti pingin ditusuk Dika dari belakang. Dan Dikapun mulai menyelipkan kepala kontolnya yang masih berlepotan dengan lendir dari nonok Asti ke celah di antara bibir nonok Meti.
“Argh, aarrgghh… Dik!” rintih Meti.
Dika menarik kontolnya perlahan-lahan, kemudian mendorongnya kembali perlahan-lahan pula. Bibir luar nonok Meti ikut terdorong bersama kontol Dika. Perlahan-lahan Dika menarik kembali kontolnya dan bertanya
“Enak Mbak?”.
“Enaaaaak banget Dik”, jawab Meti.
Dika mengenjotkan kontolnya dengan cepat sambil meremas bongkah bokong dan juga susu Meti.
“Aarrgghh… Dik!” rintih Meti ketika kontol Dika kembali menghunjam nonoknya.
Walaupun nonoknya telah beberapa kali dimasuki oleh kontol lelaki, tapi nonoknya terasa sesek saat kemasukan kontol Dika yang besar dan panjang itu. Dika memegang pinggul Meti dengan erat dan kontolnya keluar masuk nonok Meti dengan cepat dan keras.
“Ouuuhhhh Dik…, aku mau nyampe Dik”.
“Sama Mbak aku juga mau. Kita barengan ya Mbak”, kata Dika sambil mempercepat enjotannya.
“Ruuuuuud! Aku nyampe Dik, aakh…”, jerit Meti saking nikmatnya.
Nonok Meti mengejang-ngejang ketika dia mendapatkan orgasmenya. Dika merasakan nikmat pada kontolnya akibat empotan nonok Meti tersebut sehingga dia tidak bisa lagi menahan pejuhnya agar tidak bobol.
“Akh Mbak, aku nyemprot Mbak, aaakh…”, Dika mengerang saat kontolnya menyemburkan pejuhnya beberapa kali di nonok Meti.
Dengan nafas yang terengah-engah dan badan penuh dengan keringat, Dika mendekap tubuh Meti dari belakang sementara kontolnya masih tetep nancep di nonoknya. Dika dan Meti menikmati enaknya nyampe. Setelah gak ngos-ngosan, Dika mencabut kontolnya dari nonok Meti. Kontolnya berlumuran lendir nonok Meti dan pejuhnya sendiri. Dengan sisa–sisa tenaganya dia membaringkan tubuhnya diantara tubuh Heni dan Asti yang terkapar lemas setelah puas mencapai puncak kenikmatan.
Begitulah Dika ganti berganti telah memuaskan nafsu ketiga perempuan cantik itu hingga mereka benar-benar puas. Dika meninggalkan mereka bertiga dengan tubuh lunglai ketika matahari hampir tenggelam. Berjam-jam lamanya dia telah memeras tenaga memuaskan nafsu ketiga perempuan tersebut dan dirinya pun mendapat kepuasan dari ketiganya. Ada rasa bangga dalam dirinya ketika dia berhasil memuaskan mereka.
Kini empat perempuan sudah berhasil ditaklukkan oleh Dika. Mula-mula Yayuk, lalu Meti dan Asti, akhirnya Heni. Namun diantara keempat perempuan itu, Dika harus mengakui bahwa Yayuk berada diurutan teratas dari keempatnya. Mulai dari bentuknya, nonok Yayuk lebih bagus. Jembutnya lebih lebat namun tertata rapi, Yayuk betul-betul mengurus jembut hitam dan lebatnya tersebut, sehingga kesannya tambah merangsang dan tidak jorok. Bentuk belahan nonok Yayuk juga paling bagus diantara keempatnya.
Mengenai rasa, nonok Yayuk juga berada diurutan paling atas diantara keempatnya. Nonok Yayuk memiliki empotan yang ternikmat. Dinding dinding nonoknya bagaikan hidup, memijit dan meremas-remas batang kontol yang masuk kedalamnya. Dan seakan-akan dinding nonoknya punya perekat, sehingga waktu ditusuk dan ditarik seakan-akan ikut terus melekat. Kelebihan nonok Yayuk lainnya adalah walaupun nonoknya sudah banjir tetapi masih tetap enak ditimpa bahkan semakin enak. Sehingga walaupun ditimpa terus menerus tidak memberikan rasa bosan.
Sedangkan terhadap ketiga perempuan lainnya, satu sama lain punya kelebihan dan kekurangan yang berimbang. Heni memiliki daya tahan yang kuat. Walaupun nonoknya dienjot habis-habisan ia tetap bisa bertahan. Meti memiliki goyangan yang maut banget. Kalau saja bukan Dika yang digoyang pasti sudah KO duluan dalam beberapa kali goyangan saja. Sedangkan Asti, nonoknya lebih legit ketimbang dua temannya tersebut. Dan lubang nonoknya dalam sekali, sehingga walaupun nonoknya telah banjir, namun nonoknya masih terasa enak.
Menyetubuhi keempat perempuan tersebut bagi Dika memang sangat menyenangkan. Keempatnya memiliki ekpresi yang berlainan saat disetubuhi.
Yayuk sifatnya yang keibuan selalu memberikan kasih sayang dalam setiap dekapannya. Dan dalam mengekspresikan puncak kenikmatan yang didapat pun Yayuk lebih tenang dan tidak liar. Sehingga Dika selalu merasa nyaman bercumbu dengannya. Meti, perempuan yang semula lemah lembut itu jika disetubuhi akan berubah menjadi beringas. Napasnya mendengus-dengus dan ketika mencapai puncak selalu menghujamkan kukunya kuat-kuat dipunggung lelaki yang menggaulinya. Heni, napasnya napas kuda. Dari awal dientot hingga akhir tetap sama. Nonoknya yang lebih mungil dibanding Meti dan Asti tetap stabil mengurut-urut kontol cowok yang menggaulinya. Asti, saat akan mencapai puncak kenikmatan merengek-rengek dan meronta-ronta seperti sapi disembelih. Tubuhnya berkelejotan saat menikmati puncak orgasmenya.
Taroslot Bandar Togel Online dan Bandar Slot Terbesar di Indonesia
Sedangkan bagi Meti, Asti dan Heni, sosok Dika sangat berkesan bagi mereka. Dika, pemuda perkasa yang memiliki kontol yang gede dan panjang itu telah memberikan sensasi persetubuhan yang belum pernah mereka rasakan dari cowok-cowok lain yang pernah menggauli mereka. Bagi mereka Dika memiliki banyak kelebihan. Dari segi stamina, Dika memiliki stamina yang luar biasa prima. Dari segi kemaluan, Dika memiliki kontol yang luar biasa gede, panjang dan kalau sudah ngaceng tegangnya minta ampun kerasnya. Dari cara menggauli lawan jenisnya, Dika mempunyai banyak variasi permainan. Sehingga bagi cewek yang belum berpengalaman, sekali ditancap kontol Dika, pasti langsung bobol dan akan ketagihan untuk terus, terus dan terus merasakan enaknya dientot kontol Dika. Seperti juga yang dirasakan oleh Meti, Asti dan Heni yang selalu ketagihan untuk bisa mengulangi untuk dientot oleh Dika.
Begitulah Dika, ia disenangi oleh ketiga perempuan tersebut. Ia mampu menaklukkan perempuan-perempuan tersebut dan iapun mampu memuaskan mereka. Kini Dika telah menjadi pemuda yang disenangi oleh wanita terutama bagi wanita yang telah merasakan keperkasaannya.
Link Terpercaya sebagai berikut : Bandar Togel, Bandar Bola , Agen SBOBET, Bandar Casino Indonesia, Slot Terpercaya, Bandar Slot Online , Taroslot
Silahkan di Add Contact Kami ya Bosku
WHATSAPP : +62813-8453-6907
TELEGRAM : taroslot_bot
LINE : 82116524506
TWITTER : @tarosl0t
Terima Kasih ^^


Komentar
Posting Komentar